Sarjana Tanpa Slempang
Hai lagi dong! Akhir-akhir ini aku melewati banyak hal yang mungkin akan ku kenang suatu saat nanti. Hal-hal yang senang, sedih, menyebalkan, dan mengharukan. Aku tak mau melewatkan semua moment itu begitu saja, aku ingin menulisnya walau aku tau laptop ini sedang tidak baik. Tapi aku akan tetap menyelesaikannya. Jadi, selamat membaca curhatku yang gaguna ini ya!
Dari judul blog ini tentu kalian sudah tau cerita tentang apa yang tertulis di sini, dan jika sebelumnya kalian membaca “Surat Cinta Untuk Dosen”-ku, maka tentu sudah tau alasan mengapa aku menulis ini.
Kiranya satu bulan sebelum sidang skripsi, semua teman-teman perempuanku semarak membicarakan untuk pesan slempang. Slempang bertuliskan nama dan gelar, yang nantinya bisa digunakan sebagai penambah keindahan swafoto setelah sidang. Aku? Aku tak memikirkan itu. Mungkin tidak disadari oleh teman-temaknku, aku menyimpan selaksa kecemasan waktu itu. aku tak ikut memesan slempang, bukan karena aku egois atau bagaimana, tapi karena aku menyadari untuk apa aku pesan slempang kalo aku galulus bareng mereka? Bener kan.
Ah iya, aku ada tulisan yang ku tulis berbulan lalu. Gapapa kali ya sekali-sekali curhat yang sengaja kusimpan sendiri, ku post di sini. Sekali ini aja deh.
Senin, 13 juli 2020 Gazebo Bu Met-Mushola Kampus
Mengenai kekhawatiran bertubi itu, sepanjang jalan menuju kampus aku menangisinya lagi. Membalas baris2 pesan dari mas uwuwu yang berusaha membesarkan hatiku untuk tetap baik2 saja. Saat ini di hadapanku sedang asik 3 mahasiswa syariah berswa foto selepas sidang. Sesekali fokusku tertuju pada mereka, tersenyum simpul sambil bertanya pada diriku sendiri, “Apa aku benar2 tidak bisa ikut sidang skripsi?”. Di sampingku 2 kawan kelasku sedang sibuk mengobrol soal revisi skripsi mereka. Aku? Diam berkutik dengan tulisan ini.
Aku menyadari bahwa pikiranku sedang tidak baik-baik saja. Sedari pagi ada di kampus tanpa tujuan yang jelas. Teman2ku sudah pulang, tinggal aku duduk sediri dengan tulisan ini di mushala kampus. Tidak, tidak sendiri. Ada beberapa mahasiswa lain yang tentu saja aku tidak mengenalnya. Cukup ramai, tapi sepi.
Pikiranku tidak pernah tenang mulai sejak saat setelah diumumkannya persyaratan skripsi. Kau pasti tau betul apa masalahku, aku tak punya ijazah SMA. Aku berusaha tetap terlihat baik2 saja di depan teman2ku, aku tetap tertawa, aku tetap merasa pusing dengan skripsi, aku bersikap sama seperti mereka, seperti mahasiswa akhir pada umumnya, seperti tak punya beban.
Aku tak ingat lagi entah berapa kali aku menangis pada Tuhan, menghina-Nya bahkan. Sebenarnya aku punya dua pilihan untuk ini, seperti pada umunya setiap masalah, hadapi atau pergi. Jika aku menghadapi ini, maka jalan paling mudah yang bisa dilakukan adalah mengambil pinjaman di bank, aku ingin melakukannya atas namaku walau aku tak tau apa yang harus kuajukan sebagai jaminan. Lalu pilihan selanjutnya adalah, pergi. Aku bisa saja pergi dari semua ini dengan menyandang gelar pengecut, yang lari dari masalah tanpa seolah2 berusaha. Maka aku yakin sekali bahwa Alif Fikri akan sangat kecewa dan malu melihatku seperti ini, tidak menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.
Lagi-lagi aku merasa sangat rapuh. Selalu terbayang bagaimana aku sangat bahagia dengan wisuda kakakku bertahun lalu. Sedangkan aku? Aku tak yakin akan membuat orang tua dan kakakku bangga dengan wisudaku. Ini nasib, takdir, bisa apa? Sebenarnya menulis ini membuatku ingin menangis, tapi ini mushala kampus, bukan kamarku. Aku diam dengan raut muka serius menulis ini. Di pelataran mushala teman2 saling tertawa berbagi cerita mengenai sidang mereka barusan. Aku berpikir akan menutup laptop ini dan pulang setelah baterai laptop habis, minimal ketika senja mulai muncul. Tapi sayang, cuaca masih sangat panas, baterai laptop sudah menuju ingin tidur. Sungguh aku tak ingin pulang, berada di rumah membuat overthinking-ku kembali menghujam, melukai batin bertubi-tubi, menuntut ingin diselesaikan.
Aku berhasil mengulur waktu untuk pulang dengan mengobrol dengan adik tingat yang baru saja selesai menjalankan PKL hari pertamanya, obrolan kita terlampaui lama hingga aku menyadari langit mulai redup. Setengah waktuku menunggu bis ku habiskan dengan mengobrol dengan liza via vcall watsap, saat bisku datang obrolan kita pun selesai. Belum penuh 5 menit aku duduk di kursi bis, notif watsap masuk di ponselku. Kaprodi menginfokan mengenai hal-hal terkait skripsi gelombang terakhir, seketika itu aku merinding kemudian menangis.
Sepanjang jalan menuju pulang, aku kembali menangisi baris2 peringatan itu. Dengan mas uwuwu yang berusaha tetap membuatku tenang, playlist lagu genre pop yang sedang berdendang di telingaku sejak tadi, ku ganti dengan sholawat nabi. Aku butuh benar2 tenang. Sejak setelah itu sampai saat ini aku kembali menulis, pikiranku tidak tenang sama sekali.
Yah! Itu tulisanku beberapa bulan lalu. Bulan-bulan penuh tangis nan pilu, tak masalah, sekarang aku sudah baik-baik saja dengan menikmati masalah baruku. Yaah~ manusia memang tak pernah lepas dari peliknya masalah hidup. Bukan begitu?
Aku tidak bisa menceritakan masalahku pada teman-teman seperti biasanya. Ini masalah lain, bukan tentang kebaperanku kepada kaum adam yang pasti ku ceritakan pada mereka.
Seorang teman mengirimiku pesan, “gaikut pesen slempang, fa?”. Aku jawab tidak. Selain sebab masalah personal ini, aku juga ingin membersamai 3 teman laki-laki ku, yang waktu itu masih bertarik-ulur perihal skripsi mereka. “Aku nunggu mereka sek, kalo semua temen kelas pesen slempang, aku pesen. Nanti saja, seng tenang. Kalian pesan o dulu gapapa”. Kira-kira begitu jawabku di akhir obrolan.
Aku baik-baik saja soal itu. Lagipula apalah arti sebuah slempang? Aku seringkali berpikir tak sejalan dengan teman-teman. Daripada beli slempang, lebih baik uangku ku pakek buat beli mie ayam dan kuota internet. Itu lebih membahagiakan bagiku wkwk
Dan Tuhan sepertinya menaruh iba pada tangis-tangisku setiap malam itu, akhirnya aku ikut sidang. Selesai sidang aku menangis sejadi-jadinya, kalo kalian baca “Surat Cinta Untuk Dosen”-ku, pasti tau mengapa. Setelah pulang aku menulis di story watsap,
“Tidak ada foto, tidak ada slempang bertulis gelar. Yang ada hanya kesan-kesan yang nantinya akan menjadi berlembar-lembar kenang. Tidak semua hal sempat diabadikan dalam sebuah foto, kalo ingatan saja sudah bisa berbicara. Nanti, nanti akan kutulis tentang hari ini. Kalian semua, teman-teman yang tak pernah kehilangan tawa, terima kasih”.
Yudisium tiba. Aku memang berharap alfamania-ku datang untuk turut merayakan kebahagiaan ini. Saat prosesi menyerahan SK kelulusan, di hadapanku sebelah kiri ada mahasiswa lain yang cantik, aku tak mengenalnya. Saat kita semua berdiri menunggu panggilan, dia tampak terharu dan ingin menangis. Aku memahami keharuan itu, “Akhirnya aku lulus”, mungkin begitu. Tapi aku? Ah! Kalo bukan karena air mataku sudah kering, mungkin aku akan menangis haru sepertinya. Hari itu aku tak ingin menangis, aku ingin tertawa dan bahagia.
Selesai dan waktunya swafoto. Aku benar-benar tertawa keras di sana. Tawa yang berbulan-bulan ini seperti terkunci oleh overthingking, akhirnya lepas bebas. Aku senang aku masih bisa tertawa. Sebab dengan tertawa, aku meyakini bahwa aku masih hidup.
Saudara manisku datang, membawa se-pot boneka babi yang imut. Sungguh aku tak pernah dapat hadiah seperti ini sebelumnya. Terima kasih .. Dia bertanya padaku, “Slempang e sampean endi? Kok ga pesen slempang sih?”. Aku hanya tertawa saja, memang tidak pesan, kataku. Kalo kuceritakan saat itu juga, akan jadi panjang.
Aku tak butuh slempang, bisa lulus tahun ini saja itu sudah cukup. Terima kasih Tuhan.
Dan terima kasih kalian, sudah mau baca ini heuheu



Komentar
Posting Komentar