Surat Cinta Untuk Dosen

Terima kasih~

Jadi, hai! Lama sekali aku ga nulis di sini, ya. Ada banyak hal yang berlalu yang perlu untuk kutulis tapi tak sempat. Keadaan menenggelamkanku untuk larut menikmati overthingking yang tiada habis. Dan ya.. tentu saja masih tetap akan ada yang spesial tertulis di sini. Dan sebab kali ini adalah tulisan pesan untuk orang-orang terhormat, maka tidak akan ada kata-kata slengekan, kata makian, kasar, atau apapun. Mohon maaf sebelumnya untuk apapun tentang tulisan ini :)


Ini blog ke empat saya, yang memang saya buat untuk menulis orang-orang penting dalam hidup saya, atau sekedar menjadi jembatan atas perasaan saya kepada seseorang. Tulisan pertama saya terpublish setahun yang lalu, sebuah kesan dan pesan atas terselenggaranya wisuda kampus 2019, dan gelar sarjana yang kemudian disandang oleh kakak-kakak tingkat saya. Kemudian tahun ini, saya dan teman-teman yang Alhamdulillah diberi kesempatan menjumpai kelulusan dan gelar S. Hum (Sarjana Humoris, katanya)

 

“Masuk bareng lulus juga bareng, ya…”

 

Kita mungkin sudah sangat familiar dengan kalimat ini, kalimat yang biasa diucapkan ketika menyadari masa belajar mereka hampir usai. Sejujurnya saya selalu menganggap itu hanya kalimat klise yang tidak bermakna apapun, karena sejak setelah kegagalan saya kuliah di malang empat tahun lalu, semangat-semangat motivasi hanya datang sebagai angin lalu bagi saya.


Sebab juga saya menyadari bahwa, jangankan bisa lulus bareng, saya masuk saja tidak bersamaan dengan teman-teman. Saya masuk lewat gelombang ketiga, tanpa tes seperti teman-teman, hanya sedikit tes lisan dari Kaprodi. Apa-apa yang Ibu Kaprodi tanyakan waktu itu saya paham maksutnya meski tak cukup mampu menjawab, hanya na’am saja yang terus saya ucapkan sebagai jawaban, dan syukran di akhir.


Terlalu banyak, jika saya tulis setiap kesan saya selama 4 tahun di sini. Bukan saya malas untuk menulis, bukan. Tapi saya tau tidak semua orang suka membaca basa-basi saya. Mungkin nanti jika ada kesempatan, saya akan tulis setiap detail sudut dari circle BSA’16, minta doanya heuheu..


Dalam surel ini, saya tidak ingin menyinggung siapapun. Saya hanya ingin menulis apa-apa yang menjadi haru tak berkesudahan di hati saja selepas yudisium kemarin. Jika berpatokan pada kalimat tadi, maka tentu saja harusnya saya yang tidak bisa lulus bareng teman-teman. Dan sebab beberapa alasan, saya meyakini hal itu dari dulu dan saya sudah menyiapkan mental untuk itu.


Namun ya,, waktu punya kejutannya sendiri. Pada akhirnya saya menyadari bahwa bukan siapa yang datang paling awal, tapi siapa yang bisa bertahan sampai akhir. Saya tidak menyebut beberapa teman saya adalah orang yang tidak mampu bertahan, tetapi saya menyadari bahwa setiap orang punya alasan untuk iya atau tidak melakukan sesuatu. Setiap orang berhak atas dirinya sendiri, dan saya juga yakin bahwa sejauh apapun kita berjalan beriringan, tetap saja di depan akan ada jalan bercabang di mana kita akan melewatinya sendiri. Asikkk~

 

Empat tahun entah kurang, pas atau lebih, terima kasih telah menempa kami dengan selaksa kesabaran yang tak bermuara, Pak, Bu. Saya menyadari bahwa kami memang bukan angkatan yang sempurna, berapa ratus kali saya dan teman-teman melukai perasaan njenengan, Pak, Bu. Kami minta maaf.

 
Saya dan mungkin teman-teman yang lain, pasti sedikit banyak melalui kesulitan-kesulitan dalam berproses. Dalam hidup saya, di tahun terakhir setiap jenjang pendidikan saya, selalu menjadi tahun yang sangat emosional. Tuhan benar-benar membuat hati dan pikiran saya terkoyak-koyak.


Ibu Kaprodi, Bu Syafa. Terima kasih tak terbendung saya untuk njenengan. Di saat saya sudah  merasa menyerah, pasrah dan yakin 99% bahwa tidak akan lulus tahun ini, njenengan kasih bantu saya jalan keluar. Sebulan sebelum sidang skripsi adalah masa di mana saya merasa jatuh sejatuh-jatuhnya, mungkin tidak banyak yang tau, bahkan orang rumah sendiri. Bagaimana saya melalui puluhan malam-malam penuh kekhawatiran, setiap malam menangis memikirkan apakah benar saya tidak akan bisa ikut sidang skripsi dan lulus tahun ini?. Entah apa sebutannya, mungkin ini yang dinamakan depresi, setiap ketakutan itu datang saya akan menangis sejadi-jadinya di kamar, merasakan rasa sakit di kepala yang tidak tertahankan, saya tidak punya solusi lain selain membenturkan kepala saya ke tembok berkali-kali. Siklus haidl saya menjadi tidak teratur, semua beban pikiran menumpuk di kepala saya. Saya tidak ada ruang bercerita.

 

Di tengah kesadaran, saya juga menyadari bahwa saya hanya punya dua pilihan, berhenti atau tetap maju meski harus terseok. Dalam kebimbangan saya berpikir, bagaimana jika saya berhenti saja? toh tidak ada yang salah dengan lulus terlambat. Tapi di sisi lain saya juga berpikir, mungkin masalah ini terlihat selesai, tapi suatu saat nanti bisa jadi saya akan malu dan menyesali betapa pengecutnya saya hari ini. Alif Fikri dalam novel negeri 5 menara yang selama ini jadi motivasi saya, dia pasti akan sangat kecewa melihat saya menyerah begitu saja. Tidak menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.


Dan pilihan kedua, saya akan terus maju dengan apapun. Saya diliputi kebingungan dengan apa saya harus maju? Bu Syafa sudah terlalu banyak membantu saya, saya malu untuk bercerita masalah ini. Hingga seseorang bilang kepada saya, bahwa tidak ada salahnya mencoba, mungkin akan ada solusi. Dari mana saya harus dapatkan pinjaman sebesar 7 juta 5 ratus? BMT kampus, iya saya tau solusi ini sejak lama. Tapi saya menyadari saya tak punya apa-apa untuk dijadikan jaminan. Teman jauh saya menyarankan saya untuk tidak mengambil pinjaman ke bank atau koperasi. Dan pada akhirnya~


Pak Mufid, terima kasih sudah membantu banyak untuk saya. Saya merasa tak masalah jika sekarang saya menanggung hutang atas perjuangan saya, setidaknya saya telah menyelesaikan apa yang sudah saya mulai 4 tahun lalu. Berjuang tentu sudah menjadi sebuah keharusan bagi setiap orang. Cak nun bilang, Allah tidak menuntut kita untuk sukses, tapi Allah menuntut kita untuk tidak berhenti berjuang. Terima kasih Pak Mufid, sudah bersedia berbicara dengan ibu saya. Tuhan menciptakan keadaan rumah saya di mana bapak sudah tidak bisa lagi diajak berdiskusi soal kebutuhan, maka sungguh dari dalam hati saya, terima kasih.


Sekali lagi, saya menulis ini bukan untuk mencari perhatian. Saya bukan orang yang ingin dilihat atau menjadi pusat perhatian. Saya tidak peduli pada nama baik atau bagaimana orang memandang saya. Saya seorang pelupa yang ulung, maka dengan menulis cerita saya, saya tidak akan lupa. Dan saya juga seorang pengecut, saya tidak pernah punya keberanian mengungkapkan perasaan saya, selalu melalui tulisan-tulisan seperti ini perasaan saya akan sampai pada seseorang. Oke lanjut, ini belum selesai. Jangan bosan dulu..


Bu Nilna, bagi saya bukan hanya seorang dosen dan pembisnis muda. Terima kasih telah selalu memberi saya kekuatan dan kepercayaan, bahkan di saat saya tidak percaya dengan diri saya sendiri. Selalu berusaha membesarkan hati saya, walau saya sendiri menyadari bahwa saya masih mental tempe. Memang benar, ada satu dua kalimat yang membuat saya jatuh tersungkur saat sidang skripsi.


Ketika hari sidang itu tiba, saya katakan kepada diri saya sendiri, bahwa hari ini saya harus bekerja dengan maksimal. Inilah ujung dari apa yang berbulan-bulan ini saya perjuangkan. Lupakan sebentar saja sisa-sisa kegalauan yang kemarin, saya harus tampak bahagia hari itu. Tapi ya, ternyata saya tidak sekuat itu. Ketika njenengan bilang bahwa saya telah berubah, bukan seperti alfa yang dulu, entah sebab ‘faktor ekonomi’ atau apapun itu. Saat itu juga malam-malam penuh tangis berbulan lalu datang membayang, kepala saya sakit bukan main saat itu juga, tapi saya menyadari sedang berada dalam forum sidang skripsi, saya tidak bisa menangis apalagi membenturkan kepala saya. Satu langkah di luar pintu ruang skripsi di sana, tangis saya pecah!


Setelah sidang dan berjalan satu minggu, saya tidak menyentuh naskah skripsi saya sama sekali. Selama itu waktu saya habiskan untuk berpikir, “Harus bagaimana saya menjadi manusia? Saya hanya berusaha menjadi diri saya sendiri, apa salahnya? Kenapa tuhan seolah membuat banyak orang menyorot segala perubahan saya? Saya harus menjadi manusia yang seperti apa? Perubahan sifat saya yang mana yang terlihat merugikan bapak ibu dosen? Saya tidak pernah mempermasalahkan sifat seseorang karena itu urusan dia, lalu kenapa dengan sifat saya?”. Hati dan pikiran saya berdebat setiap hari. Saya merasa gagal menjadi manusia.


Seseorang bilang, “Nek ngenteni mood apik gawe nggarap revisi, ga rampung-rampung. Ndang digarap!”. dan saya pikir-pikir, memang ada benarnya, jika saya tidak melewati proses yang tinggal selangkah ini, bukankah semua yang saya lalui sebelumnya akan terbuang percuma? Bukankah tujuan saya dijatuhkan memang untuk bangkit? Maka saat itu juga saya selesaikan revisi saya. Walaupun, setelah itu saya tidak langsung menyerahkannya. Maaf Pak, Bu.


Bu Devi dan Pak Ipul, selaku dosen pembimbing skripsi saya. Maaf sebab saya jarang bimbingan, dan terima kasih untuk telah membantu proses saya menyelesaikan skripsi. Bu Devi, terima kasih banyakk telah menjadi motivasi saya juga. Dulu di semester 3 saat ujian lisan Maharah Kalam njenengan pernah bertanya mengapa saya masuk BSA di sini? Saya menjawab bahwa sejujurnya dari kecil saya selalu senang melihat orang berbicara Bahasa Arab, walau saya sendiri sama sekali tidak bisa demikian. Dan saya selalu suka lihat laptopnya njenengan ehe, semoga nanti saya bisa terbeli punya laptop minimalis dan imut itu, Bu.


Pak Ipul, saat saya tau bahwa dospem saya diganti kepada njenengan, saya tidak kecewa sama sekali. Saya justru merasa sangat senang, bagaimana tidak? Saya selalu tidak ingin ketinggalan kelasnya njenengan. Saya selalu merasa sangat senang bertemu njenengan, selalu ada ilmu dan wawasan baru yang saya dapat dari cerita-cerita njenengan. Saya tau saya akan dapat banyak petuah dan ilmu dari njenengan saat saya bimbingan. Terima kasih untuk semuanya, Pak. Saya tau saya banyak salah, saya minta maaf, Pak.


Bu Malia, terima kasih karena tidak pernah lupa membawa senyum ramah kepada saya. Setiap saya datang ke kampus dengan membawa beban, bertemu njenengan dan senyum njenengan membuat saya merasa, saya akan tetap baik-baik saja. Dunia ini memang kejam, tapi tetap akan ada yang memberimu senyum.


Dan Mbak Ainun, saya sempat berdebat kecil di watsap jauh sebelum ini. Mempertanyakan apakah dengan keadaan saya waktu itu, saya benar-benar tidak bisa ikut sidang? Hanya sidang saja. Saya tidak ingin wisuda, ijazah atau yang lain. Saya hanya ingin sidang saja. saat itu disadari atau tidak oleh njenengan, bahwa tiap chat-chat saya waktu itu, saya mengetiknya sambil menangis. Saya tidak menyalahkan njenengan jika memang saya tidak bisa, saya menyadari bahwa ini adalah SOP njenengan sebagai tata usaha.


Yah~ ini memang tidak detail, karena kalo detail entah butuh berapa episode untuk selesai. Tapi secara garis besar perasaan saya telah tersampaikan. Terima kasih bapak ibu dosen telah membantu kami semua sampai pada titik ini. Dan lagi saya dan teman-teman minta maaf setulus-tulusnya atas semua kesalahan kami, maaf  juga bila tidak sopan melalui tulisan ini, saya pengecut.


Terima kasih, luv
 




Komentar

  1. Pokok idola tena cah iki. Sang pemenag pokok nek sang juarakan komunitas e bu malia hehehe. Pemenag tau cara berdiri saat jatuh, sedangkan pecundang lebih nyaman tetap ada di posisi jatuh

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarjana Tanpa Slempang

Edisi 0: Surat Untuk WaniTangguh LPM SPEKTRUM